Lompat ke isi utama

Berita

Tedjo Dwijanto Ajak Peserta P2P Perkuat Jejaring dan Berdayakan Komunitas untuk Pengawasan Partisipatif

Tedjo Dwijanto, saat menjadi narasumber dalam kegiatan P2P.

Tedjo Dwijanto, saat menjadi narasumber dalam kegiatan P2P.

BOYOLALI – Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 yang diselenggarakan Bawaslu Kabupaten Boyolali berlanjut pada pukul 11.15 WIB dengan sesi Pendalaman Pengetahuan dan Keterampilan yang menghadirkan Tedjo Dwijanto, Anggota Bawaslu Kabupaten Boyolali sekaligus Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat, sebagai narasumber.

Dalam materi bertajuk “Penguatan Jaringan dan Pemberdayaan Komunitas”, Tedjo menekankan bahwa keberhasilan pengawasan partisipatif tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kekuatan jaringan dan komunitas yang terbangun di tengah masyarakat. Menurutnya, pengawasan pemilu yang efektif memerlukan kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kualitas demokrasi.

“Pengawas partisipatif tidak bisa bergerak sendiri. Dibutuhkan jaringan yang kuat, komunikasi yang baik, dan kolaborasi yang berkelanjutan agar semangat pengawasan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ungkap Tedjo di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa penguatan jaringan merupakan proses membangun dan memperkuat hubungan komunikasi, koordinasi, serta kerja sama antara individu, kelompok, dan organisasi untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan berkelanjutan. Sementara itu, pemberdayaan komunitas merupakan upaya meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat agar mampu berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungannya.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya membangun konektivitas antarpihak, meningkatkan kapasitas komunitas, memperkuat solidaritas, serta memperluas distribusi informasi sebagai bagian dari upaya menciptakan gerakan pengawasan partisipatif yang berkelanjutan.

Tedjo juga memaparkan sejumlah langkah strategis dalam membangun jaringan pengawasan partisipatif, antara lain mengidentifikasi potensi dan kebutuhan komunitas, membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, memperkuat jaringan sosial, mengoptimalkan saluran komunikasi, serta memanfaatkan teknologi dan media digital sebagai sarana edukasi dan koordinasi.

Menurutnya, keberhasilan sebuah jaringan sangat ditentukan oleh adanya kesamaan visi dan tujuan, kepercayaan antar anggota, komunikasi yang efektif, hubungan yang saling menguntungkan, serta komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan kerja sama. Faktor-faktor tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan pengawasan yang kuat dan mandiri.

Selain membahas penguatan jaringan, Tedjo juga mendorong peserta untuk menjadi agen pemberdayaan di lingkungan masing-masing. Ia mengajak para peserta untuk aktif mengedukasi masyarakat, mengembangkan komunitas yang peduli terhadap demokrasi, serta membangun ruang-ruang diskusi yang dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya pengawasan pemilu.

“Ketika komunitas memiliki pengetahuan dan kesadaran yang baik tentang demokrasi, mereka tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas, tetapi juga mampu menjadi pengawas yang aktif dalam menjaga integritas pemilu,” jelasnya.

Melalui materi ini, peserta Pendidikan Pengawas Partisipatif diharapkan mampu membangun jejaring pengawasan yang lebih luas, memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, serta mengembangkan komunitas-komunitas yang memiliki kepedulian terhadap penyelenggaraan pemilu dan pemilihan yang demokratis, berintegritas, dan bermartabat.

Foto : Lanjar Kurniawan
Penulis : Fajar Arif Musthofa
Editor : Alan Amundi Wibowo

Tag
bawaslu boyolali