Terang Demokrasi Dari Kursi Keterbatasan
|
Boyolali — Di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi, kisah inspiratif hadir dari TPS 005 Desa Selodoko, Kecamatan Ampel, tempat seorang pengawas Pemilu bernama Parjono menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjaga suara rakyat. Meski harus menjalankan tugasnya dari kursi roda, Parjono tetap sigap mengawasi jalannya pemungutan suara dengan penuh tanggung jawab.
“Saya hanya ingin ikut memastikan suara masyarakat benar-benar dijaga,” ujar Parjono dengan senyum hangat saat ditemui di sela tugasnya. “Meskipun fisik saya terbatas, semangat untuk mengawal demokrasi tidak boleh ikut terbatas. Ini tanggung jawab bersama sebagai warga negara.”
Kisah Parjono menjadi cerminan nyata bahwa semangat pengawasan partisipatif tumbuh dari ketulusan dan keberanian. Dalam kesehariannya, ia tetap aktif berkoordinasi dengan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan masyarakat sekitar, memastikan proses pemilu berjalan jujur dan adil.
Ketua Bawaslu Kabupaten Boyolali, Widodo, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Parjono. “Bawaslu Boyolali sangat bangga memiliki sosok seperti Pak Parjono. Beliau membuktikan bahwa perjuangan demokrasi tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh, tetapi oleh keteguhan jiwa,” ujarnya. Widodo menambahkan bahwa semangat dan komitmen para pengawas di lapangan seperti Parjono menjadi pengingat bahwa nilai pengawasan lahir dari kesadaran moral dan keberanian untuk bertindak benar.
Kehadiran Parjono di TPS menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya dan masyarakat sekitar. Ia membuktikan bahwa demokrasi bisa tumbuh terang dari ruang-ruang sederhana, bahkan dari kursi keterbatasan, selama dijalankan dengan mata yang jernih dan hati yang teguh.
“Saya ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa berkontribusi untuk demokrasi. Selama kita punya kemauan, pasti ada jalan,” tutup Parjono dengan mantap.
Foto : Hendrawan Wijaya
Penulis : Hendrawan Wijaya
Editor : Alan Amundi Wibowo