Memaknai Imsak dari Sejarahnya, Tausiyah Dhuhur Bawaslu Boyolali Perkaya Wawasan Ramadhan
|
Boyolali — Suasana Ramadhan di kantor Bawaslu Kabupaten Boyolali terus diisi dengan kegiatan pembinaan rohani. Pada Selasa (3/3/2026), jajaran pimpinan dan staf melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah yang dilanjutkan tausiyah keagamaan sebagai bagian dari penguatan spiritual di bulan suci.
Tausiyah disampaikan oleh staf Bawaslu Boyolali, Totok Nugroho, yang mengangkat tema tentang Imsak, lengkap dengan kajian makna dan sejarahnya. Dalam pemaparannya, Totok menjelaskan bahwa secara bahasa, imsak berarti menahan. Dalam konteks puasa, imsak dimaknai sebagai menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ia juga mengulas sejarah munculnya istilah waktu imsak yang dikenal luas di Indonesia. Menurutnya, penetapan waktu imsak yang biasanya berjarak beberapa menit sebelum azan Subuh bertujuan sebagai bentuk kehati-hatian, agar umat Islam memiliki persiapan sebelum benar-benar memasuki waktu wajib menahan diri.
Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap praktik ibadah memiliki dasar historis dan keilmuan. Pemahaman yang benar diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah, sekaligus menghindarkan dari kesalahpahaman dalam menjalankan puasa.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkaya wawasan keislaman dan memperdalam pemahaman terhadap syariat. Dengan rutin menggelar sholat berjamaah dan tausiyah, Bawaslu Boyolali berharap nilai-nilai spiritual dan keilmuan yang tumbuh selama Ramadhan dapat semakin memperkuat integritas serta semangat kebersamaan dalam menjalankan amanah pengawasan demokrasi.
Foto : Hendrawan Wijaya
Penulis : Fajar Arif Musthofa
Editor : Alan Amundi Wibowo